UNSYIAH WISUDAKAN 2.224 WISUDAWAN

Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) kembali mewisudakan 2.224 wisudawan untuk periode Agustus-Oktober 2016. Periode ini Unsyiah melepaskan lulusannya selama tiga hari dalam tiga gelombang, mulai 15-17 November 2016 yang berlangsung dalam Rapat Senat Terbuka di gedung AAC Dayan Dawood, Selasa (15/11).

Hari pertama, Selasa, 15 November 2016, Unsyiah mewisuda 785 lulusan. Kemudian Rabu, 16 November 2016 sebanyak 672 orang, dan Kamis, 17 November 2016 sebanyak 767 orang.

Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng dalam sambutannya menyampaikan, Unsyiah memberi apresiasi yang tinggi terhadap para wisudawan Unsyiah yang lulus cumlaude sebanyak 330 wisudawan.

“Namun perlu diingat, bahwa hasil penelitian Thomas Stanley menyebutkan, lulusan dengan nilai terbaik hanya faktor ke-30 dalam menyukseskan seseorang dalam hidupnya,” ujarnya.

Disebutkan, sementara 5 faktor utama yang sangat berpengaruh dalam menyukseskan seseorang adalah jujur, disiplin, mudah bergaul, memiliki dukungan dari lingkungan, dan bekerja lebih keras dibandingkan orang rata-rata.

Menurut Rektor Unsyiah, pemaparan ini sama sekali bukan untuk menafikan prestasi dari para lulusan, akan tetapi untuk menunjukkan bahwa nilai IPK tinggi saja bukan jaminan untuk mampu bersaing dan berbuat secara siginifikan.

“Kompetensi non-akademik yang diperoleh melalui kegiatan co-kurikuler dan ekstra-kurikuler, justru sangat membantu para alumni untuk bersaing dan sukses di kehidupan mereka,” tegasnya.

Ia menuturkan, setelah prosesi wisuda periode ini, maka secara keseluruhan jumlah lulusan sarjana, pendidikan profesi, spesialis, dan pascasarjana yang telah dihasilkan Unsyiah berjumlah 84.111 orang. Sementara jumlah lulusan diploma dari berbagai disiplin keilmuan sebanyak 25.355 orang. Meskipun jumlah lulusan Unsyiah terus bertambah. Namun hal tersebut tidak akan berpengaruh secara signifikan jika tanpa diimbangi dengan peningkatan kompetensi.

“Maka kepada para lulusan, harus mampu menunjukkan kompetensinya sesuai dengan tingkat pendidikan yang mereka tamatkan,” pesan Rektor.

Prof Samsul menambahkan, saat ini ada sisi-sisi penting yang luput dari perhatian dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini kemudian sangat berpengaruh terhadap karakter bangsa Indonesia.

“Pendidikan kita terlalu sarat dengan keilmuan kognitif, sehingga peserta didik cenderung hanya termotivasi untuk mengejar nilai terbaik saja, ataupun menjadi juara kelas,” pungkasnya.

Penulis : Ibnu Syahri Ramadhan

Editor : Reza Fahlevi

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya